Contoh:
سَحَابٌ ، رِيْحٌ ، النَّارُ
Oleh orang Arab digolongkan muannats (sima’i)
Contoh: النَّفْسُ ، السَّمَاءُ ، سُوْقٌ ،
طَرِيْقٌ ، دَارٌ ، قَمَرٌ ، سَمْشٌ ، اَرْضٌ
Seluruh benda yang jumlahnya lebih dari dua satuan
(jamak).
Kaidahnya: كُلُّ جَمْعٍ مُؤَنَّثٌ (setiap jamak adalah muannats)
Contoh: اَبْوَابٌ (pintu-pintu) نَوَافِذُ (jendela-jendela)
- Apabila tidak terdapat ciri muannats dan tidak tercakup
dalam isim muannats seperti di atas, maka isim tersebut adalah Mudzakkar.
4
- Isim Berdasarkan Jumlah Benda
Berdasarkan jumlah bendanya isim
dibagi menjadi tiga, yaitu isim mufrod, isim mutsanna dan isim jamak. Isim
mufrod adalah isim yang jumlah bendanya satu satuan (satu biji, satu helai,
satu pohon dan sebagainya), biasanya ditandai dengan dhommah, fathah, kasroh. Isim
mutsanna adalah isim yang jumlah bendanya dua satuan. Tanda khas yang mudah
diketahui dari isim ini adalah akhirannya …َانِatau
…َيْنِ
untuk mudzakkar dan تَانِ atau تَيْنِ untuk muannats. Isim jamak adalah isim yang jumlah
bendanya lebih dari dua satuan. Isim jamak ini dibagi tiga bagian, yaitu jamak
mudzakkar salim (جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّلِمِ), jamak muannats salim (جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّلِمِ)
dan jamak taksir (جَمْعُ التَّكْسِيْرِ).
- Isim jamak mudzakkar salim berasal dari isim mudzakkar
mufrod dan rangkaian hurufnya tidak ada yang diubah hanya ditambah (ـُوْنَ)
atau (ـِيْنَ) di akhirnya.
Contoh : مُسْلِمُوْنَ atau مُسْلِمِيْنَ berasal dari مُسْلِمٌ
- Isim jamak muannats salim berasal dari isim muannats
mufrod dan rangkaian hurufnya tidak ada yang dirubah hanya ta’ marbuthoh
di akhir kata yang menjadi ciri isim muannats dipisahkan dulu dengan
menambah alif mati menjadi ـَاتٌ atau ـَاتٍ.
- Isim jamak taksir dapat berasal dari isim mudzakkar
mufrod atau isim muannats mufrodah, akan tetapi rangkaian hurufnya
terjadi pemecahan baik ditambah atau dikurangi. Isim ini tidak memiliki
aturan dan tanda
5
khas, sehingga harus dihafal.
Contoh : اَبْوَابٌ berasal dari بَابٌ
, نَوَافِذُ berasal dari نَافِذَةٌ
- Berdasarkan Terdefinisi (Khusus) atau Tidak Terdefinisi
(Umum)
Berdasarkan umum dan khususnya isim
dibagi menjadi dua, yaitu isim nakiroh (umum) dan isim ma’rifat (khusus).
- Isim nakiroh
ditandai dengan adanya tanwin ( ـًـ ، ــٍ ، ــٌ )
Contoh : هُدٌى
، كِتَابٌ
- Isim ma’rifat
mencakup tujuh jenis, yaitu :
- Isim yang diawali dengan Al (لا)
Contoh : الهُدَى
، الكِتَابُ
- Isim dhomir (kata ganti)
- Isim isyaroh (kata tunjuk)
- Isim maushul (kata sambung)
- Isim alam (nama)
- Isim munada (yang dipanggil)
- Isim idhofat (yang disandarkan)
Masing-masing jenis isim tersebut,
akan dibahas berikut ini.
- Isim Dhomir
Kata ganti ini digolongkan ke dalam
isim ma’rifat karena fungsinya untuk menggantikan isim tertentu.
Berdasarkan penampakkannya dalam
tulisan, isim dhomir dibagi dua, yaitu isim dhomir bariz (tampak dalam tulisan)
dan isim dhomir mustatir (tidak tampak dalam tulisan). Pada bab ini hanya
dibahas isim dhomir bariz, sedangkan isim dhomir mustatir dibahas setelah
membahas kalimat sempurna.
Isim dhomir bariz dibagi lagi
menjadi dua bagian yaitu isim dhomir bariz muttashil (tersambung dengan kata
lain) seperti : لَكُمْ = كُمْ + لَ dan isim dhomir bariz munfashil (berdiri sendiri) seperti
: اَنْتَ ، هُوَ
6
- b. Isim isyaroh ( اِسْمُ الاِشَارَةِ )
Kata tunjuk digolongkan ke dalam
isim ma’rifat karena fungsinya untuk menunjuk isim-isim tertentu.
Kata tunjuk ini berbeda sesuai
dengan Ietak isim yang ditunjuk serta jenis dan jumlahnya. Perbedaan kata
tunjuk ini antara isim dekat (qorib) dengan jauh (ba’id) yaitu ha tanbih ( هَـ ) di
awal untuk qorib dan adanya dhomir mukhotob di akhir untuk isim ba’id ( كُمَا ، كَ
atau كُمْ ).
Selain isim isyaroh ada yang dikaitkan dengan letak, jenis dan jumlahnya, ada
juga isim isyaroh yang dikaitkan dengan letaknya saja.
Seperti : هُنَا
، هُنَاكَ ، هُنَالِكَ
- c. Isim Maushul ( اِسْمُ الْمَوْصُوْلِ )
Isim maushul ini digolongkan ke
dalam isim ma’rifat karena fungsinya untuk mengkhususkan suatu isim tertentu
dengan kalimat yang ada sesudahnya.
Selain isim maushul yang digunakan
untuk menghubungkan isim berdasarkan jenis dan jumlahnya, ada pula isim maushul
yang sifatnya umum (tidak dilihat mudzakkar atau muannats-nya) yang digunakan
untuk yang berakal atau yang tidak. Yaitu مَا (apa-apa, apa saja) digunakan untuk isim
yang tidak berakal (اِسْمُ المَوْصُوْلِ لِغَيْرِ
اِلْعَاقِلِ ) dan مَنْ (siapa
saja/barang siapa) digunakan untuk isim yang berakal ( اِسْمُ المَوْصُوْلِ لِِلْعَاقِلِ ).
- d. Isim Alam ( اِسْمُ الْعَلَمِ )
Isim alam adalah isim yang digunakan
untuk nama tertentu tanpa membutuhkan penjelasan. Isim ini ma’rifat karena
setiap nama menunjukkan isim tertentu. Pada bagian ini akan dikhususkan pada
kata yang digunakan untuk nama manusia. yang dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
Contoh : عَائِشَةُ
، عُمَرُ
7
- Kunyah ( كُنْيَةٌ ) : julukan
Adalah nama yang diawali dengan kata
: اِبْنٌ ، اُمٌّ ، اَبٌdan بِنْتٌ
Contoh : اُمُّ
الْمؤمنين ، اِبْنُ الْخَطَّابِ ، اَبُوْ حَفْصٍ dan lain-lain.
Diberikan khusus kepada orang-orang
yang mempunyai kelebihan dalam suatu perkara.
Contoh : الصِّدِّيْقُ
، الرَّشِيْدُ ، الفَارُوْقُ
dan lain-lain.
- e. Isim Munada ( اِسْمُ الْمُنَادَى )
Adalah isim yang berada setelah
huruf nida. Isim ini menjadi ma’rifat karena setiap objek yang diseru. pasti
telah tertentu dan diketahui oleh si penyeru. Huruf nida terdiri dari huruf
nida untuk dekat, untuk jauh dan untuk dekat dan jauh.
Isim munada dibagi lima, yaitu :
mufrod alam, nakiroh maqsudah, mudhofan, sibhul mudhof, nakiroh ghoiru maqsudah
dan khusus lafdzul jalalah. Pada bagian ini hanya dibahas tiga jenis isim
munada yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an atau bacaan sehari-hari, yaitu isim
munada mufrod (satu kata), munada mudhofan dan isim munada khusus lafdzul
jalalah.
Yaitu isim munada yang terdiri dari
satu kata bentuknya nakiroh, akan tetapi tidak boleh pakai tanwin setelah
diawali huruf nida. Tanda akhirnya tetap rofa (salah satu tandanya dhommah).
Contoh : يَا
مُسْلِمُ
Isim munada yang berbentuk idhofah
(disandarkan). Tanda akhir untuk kata yang disandarkan adalah nashob (salah
satunya fathah).
Contoh : يَا
رَسُوْلَ اللهِ
Kadang-kadang huruf nida dapat
dibuang jika berbentuk do’a
seperti : يَا رَبَّنَا menjadi رَبَّنَا
8
- Isim munada khusus lafdzul jalalah (اَللهُ)
Sebenarnya termasuk isim munada
mufrod, akan tetapi isim munada ini ada pengkhususan yaitu : bentuknya ma’rifat
يَا اَللهُ
dan huruf nida bisa diganti dengan huruf mim yang bertasydid ditarik di
akhirnya yaitu : اَللّهُمَّ
Catatan :
Apabila isim munada mufrod dalam
bentuk ma’rifat baik dengan ” لا ” ataupun isim maushul, maka setelah يا tidak dapat langsung tersambung dengan
isim tersebut, tetapi harus diselingi dengan lafadz اَيُّهَا
(untuk isim mudzakkar) dan اَيَّتُهَا
(untuk isim muannats).
Contoh : يَااَيَّتُهَا
النَّفْسُ ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ
- f. Isim Idhofat
(kata yang disandarkan) ( اِسْمُ اْلإِضَافَةِ )
Penyandaran (idhofat) ini hanya
terjadi antara dua isim (tidak fiil dan tidak juga huruf) Isim yang pertama
yang disandarkan disebut mudhof ( مُضَافٌ ) sedangkan isim yang disandari disebut
mudhof ilaihi (مُضَافٌ إِلَيْهِ ), yang merupakan isim ma’rifat adalah isim yang menjadi
mudhof, sedangkan yang menjadi mudhof ilaihi dapat ma’rifat dapat pula nakiroh
tergantung bentuknya. Yang perlu dipahami bahwa mudhof ilaihi itu tidak boleh
kata sifat, dan bentuknya tetap majrur (salah satu tandanya kasroh).
Sedang ketentuan untuk mudhof adalah
:
- Tidak boleh ada ” لا “
- Tidak boleh tanwin
- Apabila isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim, nun
yang berada di akhirnya dibuang.
Contoh : رَسُوْلُ اللهِ
= اللهُ + رَسُوْلٌ
وَالِدَيْهِ
= ـهِ + وَالِدَيْنِ
بَنِيْ
اِسْرَائِيْلَ = اِسْرَائِيْلَ +
بَنِيْنَ
- Berdasarkan Huruf Akhir dan Sakal (tanda) Akhirnya
9
Berdasarkan huruf akhir dan sakal
akhirnya isim dibagi 4 jenis, yaitu isim shohih akhir, isim mu’tal akhir,
asmaul khomsah dan isim ghoiru munshorif.
- Isim shohih akhir ini sudah dibahas pada bab-bab
sebelumnya, terdiri dari isim mufrod, mutsanna, jamak taksir, jamak mudzakkar
salim dan jamak muannats salim.
- Isim mu’tal akhir artinya isim yang huruf akhirnya
berupa huruf illat yaitu alif mati atau ya’ mati ( ىْ atau يْ ).
Jika akhirnya alif mati disebut isim maqshur ( الاِسْمُ
المَقْصُوْرُ ) seperti : مُوْسَى ، هُدَى , dan jika akhirnya ya’ mati disebut isim manqus ( الاِسْمُ المَنْقُوْصُ ) seperti : الهَادِيْ ، القَاضِيْ
- Asmaul khomsah (isim yang lima) adalah isim yang
jumlahnya lima buah, yaitu : اَبٌ ، اَخٌ ،
حَمٌ ، فُ ، ذُ .
Kelimanya memiliki kesamaan bentuk
yaitu diakhiri dengan wawu jika rofa’ seperti : اَبُوْكَ
، اَخُوْكَ ، حَمُوْكَ ، فُوْكَ ، ذُوْ مَالٍ
Diakhiri dengan alif jika nashob,
seperti : اَبَاكَ ، اَخَاكَ ، حَمَاكَ ، فَاكَ ، ذَا
مَالٍ
Diakhiri dengan ya’ jika majrur,
seperti : اَبِيْكَ ، اَخِيْكَ ، حَمِيْكَ ، فِيْكَ ،
ذِيْمَالٍ
- Isim ghoiru munshorif (isim yang tidak menerima
tanwin).
Ada beberapa isim yang tidak ber ” لا ” dan
bukan sebagai mudhof, akan tetapi tidak dapat menerima tanwin. Isim semacam ini
disebut isim ghoiru munshorif. Yang termasuk isim ghoiru munshorif adalah :
- Sebagian besar nama orang yang bukan bentukan dari kata
lain, seperti : فَاطِمَةُ ، عُثْمَانُ ،
عُمَرُ dll.
- Shighot muntahal jumuk ( صغة
منتهى الجموع ), bentuk
jamak yang sama dengan مَفَاعِلُ dan مَفَاعِيْلُ, seperti : مَسَاجِدُ
- Mengandung alif ta’nits mamdudah ( الف التأنيث الممدودة
) seperti : صَحْرَاءُ ، سَوْدَائُ ، حَمْرَاءُ